SILA' MO DATANG NING BLOG PARIRI LEMA BARIRI

rss

Minggu, 28 Februari 2010

Kerajinan Lonto Tak Bernama

"Orang bilang tanah kita tanah surga,tongkat, kayu dan batu jadi tanaman" Potensi ini yang digunakan oleh sejumlah penduduk Kecamatan Brang Ene untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai seni dan berestetika. Dapat dibayangkan akar mati yang sering kita abaikan tergeletak di sekitar kita bisa menjadi tanaman hias yang indah dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Hal ini pula yang dilakukan oleh Fitran, seorang pengrajin dari desa Mura Kecamatan Brang Ene. Akar-akar pohon (Lonto) yang menjulur tidak beraturan dan menurut kita sudah tidak bisa digunakan lagi, diolah menjadi sebuah karya seni ber-estetika tinggi. Hasil-hasil olahan akar-akaran ini terdiri dari berbagai bentuk  dan warna, ada yang berbentuk tanaman hias, ukiran patung hewan seperti burung, dan ada pula meja serta  kursi. Meskipun usahanya masih seumur jagung, hasil kerajian olahan akar pohon miliknya cukup banyak.

Hal ini ditunjang pula dengan pengalamannya ketika bekerja di daerah wisata Bali. Dimana kerajinan-kerajinan sejenis ini banyak dipasarkan disana. Ketika mengetahui di kampung halamannya sendiri juga terdapat bahan baku  yang sama untuk pembuatan kerajinan ini, yang kualitasnya tidak kalah dari produksi pengrajin-pengrajin yang ada di Bali, dia pun mengembangkannya sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Tentu saja dengan membawa nama Kerajinan Khas dari Kabupaten Sumbawa Barat.

Sebagai langkah awal memperkenalkan hasil karyanya, kerajinan olahannya diikutkan dalam bazar  MTQ ke-IV Sumbawa Barat yang diadakan di desa Mura beberapa waktu lalu. Hal ini dilakukan karena untuk memperkenalkan hasil olahannya kepada masyarakat. Sebelumnya hasil kerajinannya hanya dipromosikan  dari mulut ke mulut, tetangga ke tetangga. Karena untuk mengandalkan Dinas terkait untuk mempromosikannya secara luas melalui Pameran-pameran budaya yang kerap dilaksanakan di TMII Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya, dirasa belum pantas untuk disejajarkan dengan produk-produk kerajinan lokal yang sudah bermerk.

"Kami membutuhkan binaan dan perhatian yang serius dari Pemerintah, karena kerajinan ini bisa menjadi icon seni yang layak diperjualbelikan"ungkapnya datar. Siapa tahu kerajinan ini kelak akan menjadi kerajinan khas Kabupaten Sumbawa Barat.

Sabtu, 27 Februari 2010

PETANI KALIMANTONG SUDAH MEMASUKI MUSIM TANAM


Masa dinantikan akhirnya sampai juga di pelupuk mata petani Kalimantong, masa panen padi. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, suka duka mewarnai petani desa kalimantong pada khususnya yakni terdiri dari musim tanam, perawatan, hingga  panen hasil apa yang mereka tanam selama  3 bulan terakhir. Ditempat terpisah Kades Kalimantong, Ayubar mengatakan bahwa hasil pertanian petani Kalimantong belakangan ini menurun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya  kurangnya curah hujan, serangan hama serta harga pupuk yang melambung tinggi.

Dari tahun ke tahun harga padi kering semakin turun drastis. Permainan calo yang menurunkan  harga gabahnya  dengan alasan gabah terendam air, padahal hujan jarang turun rasanya terlalu mengada-ada. Permainan harga gabah ini cukup meresahkan petani.  Produksi gabah di Kabupaten sendiri telah cukup menghidupi seluruh rakyatnya selama setahun bahkan bisa melebihi kapasitas yang ada. Namun, mengapa masih banyak gabah yang secara khusus didatangkan dari luar daerah?? Harga gabah impor ini terbilang cukup murah dibandingkan harga gabah lokal sehingga merusak dan menurukan harga pasar yang mengakibatkan kerugian bagi petani.